Monday, February 9, 2009

Sasaran Dakwah Ikhwan




(Buku Ikhwanul Muslimin; Deskripsi, Jawaban Tuduhan, dan Harapan Oleh Syaikh Jasim Muhalhil)

Sasaran Dakwah Ikhwan
Memberi keyakinan dan memperbaiki pemahaman kaum muslimin terhadap Islam, menjelaskan da’wah al-Qur’anul Karim secara gamblang dan jelas, menampilkan isinya secara mulia sesuai dengan ruh zaman, menyingkap kandungan al-Qur’an beruapa kehebatan dan keindahannya, serta menolak semua kebatilan dan kedustaan yang diarahkan kepadanya.
Menghimpun kaum muslimin dalam beramal di atas prinsip-prinsip al-Qur’an yang mulia dengan mempengaruhi pengaruh al-Qur’an secara mendalam dan kuat di dalam jiwa.
Mengabdi pada masyarakat dan membersihkan mereka dengan memerangi kebodohan, penyakit, kemiskinan, kehinaan, dan memotivasi kebajikan, kemanfaatan umum dalam segala bentuknya.
Memfokuskan perhatian terhadap keluarga, melalui tuntunan sebagai berikut:
Setiap anggota Ikhwan memberi perhatian khusus kepada anggota keluarganya, baik kepada isteri, saudara dan anaknya.
Jama'ah harus membuka lapangan aktivitas kewanitaan secara hak melalui penyebaran buku, mengadakan pertemuan dan membuat perkumpulan umum bagi wanita, secara umum dan khusus. Juga melalui pembentukan kader khusus para wanita muslimah.
Setiap anggota harus mencari isteri yang shalihah.
Setiap anggota harus melibatkan semua anggota keluarganya dalam roda da'wah.
Jama'ah harus mewujudkan sarana untuk menutupi kebutuhan ini, misalnya satu unit bertanggung jawab dalam hal pemeliharaan anak, satu unit lainnya bertannggung jawab dalam masalah kewanitaan, unit khusus untuk membentuk dan membina para muslimah tingkat pusat, dan unit khusus di tinngkat pusat yang akan menerima anak-anak yang telah menyelesaikan penndidikan pada peringkat tertentu.
Jama'ah berupaya membebaskan rumah anggota dari semua hal yang bertentangan dengan Islam. Melarang sikap persaingan duniawi (materialistik) di antara para wanita Ikhwan, serta menggalakkan zuhud (hidup sederhana).
Jama'ah menyelenggarkan halaqah-halaqah wanita di masjid sekaligus menyediakan para guru wanita dan laki-laki yang aktif dan shalih.
Jama'ah membantu mengadakan buku-buku rujukan bagi wanita dan memilihkan buku yang baik bagi mereka. Menyelenggarakan program tulis menulis, mencetak dan menerbitkan berbagai buku kewanitaan, meletakkan beberapa buku yang pengelolaannya diserahkan di bawah wewenang kaum wanita dan anak-anak muslimah, dan berusaha mewujudkan perpustakaan Islam. Sebuah rumah tangga muslim tidak akan terwujud hanya melalui bimbingan kepada para suami, ayah, anak, akan tetapi harus melalui penumbuhan lingkungan yang sesuai dan pemeliharaan yang sehat.
Jama'ah memotivasi pemikahan dilakukan pada usia dini dan berupaya memperbaiki pribadi sehingga memiliki pengaruh yang baik dalam keluarga. Insitusi Keluarga, tidak lain adalah kumpulan pribadi. Bila seorang suami berkepribadian baik, begitupun isteri akan memiliki pribadi yang baik. Keduanya merupakan tiang penyangga sebuah keluarga yang mampu membentuk sebuah rumah tangga percontohan yang berdiri di atas prinsip-prinsip Islam.

Islam telah meletakkan prinsip-prinsip dalam berumah tangga, di antaranya
Menganjurkan kaum pria melakukan pemilihan yang baik terhadap calon isteri.
Menjelaskan cara yang paling tepat untuk mengikat hubungan suami isteri.
Memberi batasan hak dan kewajiban suami dan isteri.
Mewajibkan kedua belah pihak untuk memelihara buah pernikahan hingga dapat tumbuh dan matang tanpa kerusakan dan kelalaian.
Memberi penyelesaian semua permasalahan hidup dalam berumah tangga secara detail.
Menggariskan semua teori berumah tangga dengan jalan pertengahan, tidak mengurangi. dan tidak berlebihan.
Ikhwan menghendaki terbentuknya rumah tangga muslim, baik dari sisi pemikiran, 'aqidah, akhlaq, perasaan, di setiap amal dan prilakunya. Karenanya, Ikhwan mengajak kaum wanita untuk membantu kaum lelaki. Begitupun anak-anak untuk membantu para pemuda. Inilah sasaran da'wah Ikhwan dalam membentuk mereka menjadi sebuah keluarga idaman.
Perhatian untuk membentuk sebuah masyarakat Islam. Tak diragukan lagi, bila keluarga telah baik, niscaya masyarkat pun menjadi baik. Masyarakat, tidak lain merupakan kumpulan keluarga. Dan keluarga adalah masyarakat mini. Sedangkan masyarakat merupakan keluarga besar. Islam telah meletakkan prinsip-prinsip hidup bermasyarakat yang sejahtera.

Karena itu, Ikhwan menghendaki berdirinya sebuah bangsa muslim, masyarakat muslim. Ikhwan bekerja menyampaikan da'wah Islam ke seluruh rumah, mengangkat suara Islam di setiap tempat, menyebarkan fikrah Islam dan memasuki kampung-kampung, pusat-pusat perkumpulan, dan pelosok kota. Mereka, dalam menunaikan tugas ini, tak kenal lelah dan berupaya tidak
meninggalkan semua sarana yang diridhai Allah dan Rasul-Nya.

Sasaran ini pernah disebutkan secara global oleh Syaikh al-Murabbi Hasan al-Banna rahimahullah:

"Misi kita Ikhwanul Muslimin, secara global adalah: Menghadapi arus keangkaramurkaan dari peradaban materialistik dan kebudayaan nafsu dan syahwat sampai hilang dari tanah kita dan kita terbebas dari malapetaka yang muncul karenanya.

"Tidak sampal di sini, bahkan kita akan terus mendatangi kejahatan itu di sarangnya, kita akan perangi di dalam kandangnya sampai dunia mengagungkan nama Nabi saw., tunduk pada nilai-nilai al-Qur'an, dan bayang-bayang Islam meneduhi semesta. Pada saat itu tecapailah apa yang dicita-citakan seorang muslim. Tidak ada lagi fitnah dan ketundukan hanyalah kepada Allah.

"Dan kewajiban kita Ikhwanul Muslimin yang pertama sekali, adalah menjelaskan manusia batasan-batasan Islam dengan jelas, sempurna, terang, tanpa penambahan, pengurangan dan tanpa kerancuan. Inilah sisi teoritis dalam kerangka fikrah kita.
Kita juga menganjurkan manusia untuk merealisasi ajaran Islam, membawa mereka sampai ke tahap pelaksanaannya, dan menuntun mereka untuk dapat mengamalkannya.

"Inilah sisi praktis dalam kerangka fikrah kita. Yang selalu menjadi syi'ar kita adalah: Allah adalah tujuan kita, Rasul adalah teladan kita, al-Qur'an adalah acuan kita, jihad adalah jalan kita, dan mati dijalan Allah adalah cita-cita kita yang tertinggi. Sesunguhnya sistem da'wah Ikhwanul Muslimin mempunyai tahapan-tahapan tertentu, dan langkah-langkah yang jelas. Kita mengetahui apa yang kita kehendaki, dan apa sarana untuk merealisasi keinginan tersebut.

"Yang kita ingini pertama kali adalah, seorang pribadi muslim, kemudian rumah tangga muslim, bangsa muslim, dan kedaulatan Islam. Dari sini, maka kita tidak mendukung seluruh sistem yang tidak Islami dan tidak merujuk pada ajarannya. Kita akan bersama-sama bekerja menghidupkan sistem pemerintahan Islami dengan seluruh aspeknya.

"Setelah itu, kita menginginkan agar seluruh bagian dari tanah air Islam yang telah dipecah-pecah oleh sistem politik asing kembali bergabung bersama. Lalu kita ingin agar bendera Allah kembali berkibar tinggi di atas seluruh penjuru bumi yang dahulu pernah merasakan kesejahteraannya bersama Islam.

"Selanjutnya, kami akan mengumandangkan da'wah Islam ke seluruh dunia, dan menyampaikan daw'ah ke seluruh ummat manusia, merata ke selutuh ufuk bumi, menundukkan kediktatoran
manusia kepadanya, hingga tidak ada lagi fitnah di muka bumi, dan ketundukan hanya pada Allah swt. semata."

"Setiap fase dari fase fase ini telah ditentukan langkah, jabaran, dan sarananya."
Sumber : http://eramuslim.com/manhaj-dakwah/sasaran-dakwah-ikhwan.htm

Prinsip-Prinsip Dakwah Ikhwan

Prinsip Pertama

Berhukum kepada al-Kitab dan as-Sunnah. Prinsip yang sama sekali tidak boleh dilanggar adalah berhukum kepada Allah Azza wa Jalla. Karena Allah telah memerintahkan kita untuk itu,

“Dan apa-apa yang kalian perselisihkan di dalamnya dari sesuatu maka hukumnya (kembali) kepada Allah.” (QS. asy-Syura: 10)

“Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul dan pemimpin kalian. Bila kalian berselisih dalam sesuatu maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir, itulah yang paling baik.” (QS. an-Nisa:59)

Allah memerintahkan kita untuk mentaati Rasul-Nya saw., kemudian mentaati pemimpin. Dan bila terjadi perselisihan, baik antara kita dengan pemimpin atau antara sesama kita, maka harus dikembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Karenanya Imam Hasan al-Banna rahimahullah mengatakan dalam prinsip kedua, "Dan al-Qur'anul karim dan Sunnah yang suci adalah rujukan setiap muslim dalam mengenali hukum-hukum Islam. Al-Qur'an difahami sesuai dengan kaidah bahasa Arab tanpa berlebihan dan over. Sedangkan pemahaman sunnah yang suci dikembalikan kepada para tokoh hadits yang mulia."

Prinsip kedua

Setiap orang perkataannya dapat diambil atau ditolak kecuali al-ma'shum (yang terpelihara dari dosa) yakni Rasulullah saw. Tentang hal ini Ustadz Hasan al-Banna mengatakan dalam prinsip keenam, “Setiap orang dapat diambil perkataannya atau ditinggalkan kecuali al-ma'shum Rasulullah saw. Dan setiap yang datang dari para salaf ridhwanullahi 'alaihim yang sesuai degan al-Kitab dan Sunnah kami terima. Bila tidak maka Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya lebih utama untuk diikuti. Akan tetapi kami tidak menyebut pribadi-pribadi tertentu yang berselisih dalam hal ini melalui cacian atau penghinaan. Kami serahkan mereka dengan niat mereka kepada Allah, dan mereka akan memperoleh balasan apa yang telah mereka perbuat."

Terkait dengan hal inilah Ustadz Hasan al-Banna mengatakan, "Karena itu setiap orang, kecuali al-ma'shum saw., dapat diambil perkataannya atau ditolak."

Perkataan seseorang dapat dijadikan sandaran, selama memiliki dalil yang jelas tentang kebenarannya, dan ditolak selama tidak jelas petunjuk kebenarannya.

Dalam hal ini, ketika Ikhwan mengangkat perkataan para ummat terdahulu dari para imam fiqih, dan bahasa Arab, tidak terbetik dalam hati kami bahwa kita wajib hukumnya mengikuti mereka, apapun yang mereka katakan.

Meskipun demikian kami tetap berhujjah dengan perkataan mereka dan merekalah imam-imam fiqih, yang mengetahui berbagai uslub fiqih. Karenanya, Ikhwan juga tidak membolehkan seseorang berhujjah dengan apa yang tertera pada majalah yang dikeluarkan Ikhwan, atau juga dengan buku yang ditulis oleh tokoh-tokoh Ikhwan.

Seluruhnya harus dikembalikan oleh al-Kitab dan sunnah yang suci. Seandainya hal tersebut tidak dilarang, niscaya semua orang dapat menghancurkan semua da'wah yang ada di medan da'wah dan harakah.

Prinsip Ketiga

Hasan al-Banna bukanlah sekedar seorang alim yang memberi pelajaran pada murid-murid sekolah, menganalisa masalah-masalah ilmiyah. Hasan al-Banna adalah seorang yang selalu memfokuskan
perhatiannya pada gejolak ummat Islam, keterbelakangan dan kejauhan mereka dari agama mereka, kebodohan mereka terhadap Islam, penguasaan musuh-musuh atas mereka, sehingga beliau ingin mengembalikan kejayaan ummat ini kembali, dengan membina pribadi Islam, dan jama'ah Islamiyah yang dapat mengembalikan keashalahan (kemurnian), dinamika dan kebaikan ummat Islam.

Sedangkan tokoh yang orientasinya membina masyarakat dalam hal ini, bukanlah seperti orang alim yang mengatakan kalimat yang haq kemudian pergi dan tidak perduli pengaruh yang ditinggalkan akibat perkataannya itu.

Hasan al-Banna mengamati banyak hal, ia berjalan selangkah demi selangkah, meletakkan tahapan dalam beramal, di mana setiap tahapan ia bangun hingga pada taraf tertentu kemudian baru dilanjutkan pada tahapan berikutnya.

Hasan al-Banna dalam hal ini selalu berhadapan dengan berbagai realitas pahit. Para pendukung kebenaran hanya sedikit. Dan mereka yang mampu menyempurnakan bangunan dengan baik dari yang sedikit itu lebih sedikit lagi. Jumlah yang sedikit inilah yang harus meretas jalan, di tengah terpaan angin, di tengah kehidupan yang telah di penuhi khurafat, bid'ah dan ikhtilaf.

Hasan al-Banna membangun sebuah bangunan yang tak dapat dilakukan dalam waktu sehari, bahkan satu bulan. Berhadapan secara frontal dengan realitas dan kebatilan yang tak mungkin selesai dengan satu kali gempuran.

Orang-orang yang melemparkan kritik, sambil duduk di balik tumpukan buku dan menghakimi da'wah Syaikh Hasan al-Banna, telah melakukan kesalahan besar. Mereka tidak mengetahui apa tujuan yang diinginkan syaikh dalam da'wahnya.

Sebagian mereka menilai da'wah Ikhwan hanya dari satu tahapan ke tahapan lainnya, sementara yang lainnya tidak dapat menggambarkan harakah secara utuh. Mereka mengira bahwa syaikh dan da'wahnya bertentangan dengan mereka, karena mereka tidak menguasai harakah dan karakteristik da'wah Hasan al-Banna pada tahapan-tahapannya.

Sementara ada pula sebagian yang melihat pada sekelompok orang yang dirangkul oleh jama'ah dan tengah dibina di pangkuan da’wah. Dari sanalah orang-orang itu menilai da'wah, karena menggenalisir dan menyangka bahwa semua mereka adalah anggota Ikhwan.

Yang lain lagi mengkritik harakah berdasarkan prilaku, aqidah dan persepsi anggotanya. Sebagaimana orang-orang kafir menilai prilaku kita kaum muslimin, tanpa dilandasi paradigma dan prinsip yang kita sepakati.

Para kritikus itu memiliki manhaj yang beragam, sumber yang berbeda-beda, setiap orang melihat kebenaran pada satu sisi dan mengklaim da'wah Ikhwan sebatas apa yang mereka anggap benar. Bisa jadi orang lain yang benar, dan bisa jadi dia yang benar. Akan tetapi, karena keragaman manhaj dan sumber tadi, objek kritikannya pun hanya berkisar pada masalah-masalah parsial.

Sesungguhnya Syaikh Hasan al-Banna ingin mengembalikan sebuah arus Iman Islam, yang telah tersingkir dari dada ummatnya. Ia mengikat para pengikutnya dengan ikatan ukhuwwah Islamiyah, melakukan da'wah Islam disana sini, masuk ke dunia akademis, bergerak di bidang militer, hingga kementerian.

Al-Banna mengarahkan masyarakat kepada Islam sesuai pemahaman yang sederhana dan jelas. Terkadang ia mengemas da'wahnya dengan apik agar ummat terhindar dari perpecahan. Meskipun para pengikutnya memiliki pemahaman yang bertingkat-tingkat, namun ia mampu menghimpun mereka dan mendorong arus Islam ini secara umum, serta dapat berinteraksi dengan arus dan menerima perkembangan.

Inilah ruang lingkup yang harus dilihat pada Harakah Ikhwan. Suatu pandangan yang parsial tidak akan bermanfaat sebelum mengetahui ruang lingkup tersebut.

Hasan al-Bana bukan guru spesialis aqidah, atau fiqih. Ia adalah da'i penyeru ummat manusia pada Islam, melakukan pembinaan di atasnya, mengarahkan serta menghimpun manusia kepada Islam. la memiliki pemahaman yang baik terhadap Islam. Akan tetapi ia meletakkan rambu-rambu dan batasan yang tidak berarti pemisahan atau juz'iyah.

Selanjutnya, kita dapat mendiskusikan beberapa tulisan yang mengkritik Jama'ah Ikhwan. Dan dalam menilai pergerakan harakah Islamiyah ini ada beberapa hal yang perlu disepakati:

Pertama, Ketika kami berbicara tentang Ikhwan ,"Salafiyah" bukanlah istilah teknik untuk suatu jamaah, melainkan bentuk pemahaman terhadap Islam dalam menghadapi berbagai faham lain dari berbagai kelompok yang menyimpang. Pemahaman ini ada sejak awal sejarah Islam.

Pada dasarnya, seluruh du'at harus menjalani manhaj Salaf ridhwanullahi'alaihim, bergerak dengannya baik secara pemahaman, amalan dan aqidah. Salafiyah bukan sebuah jama'ah dari jama'ah-jama'ah, dan bukan merupakan satu hizb dari berbagai hizb yang ada.

Kedua, Tuduhan bahwa Ikhwan tidak memiliki persepsi aqidah yang jelas adalah propaganda yang membutuhkan bukti. Dan apa yang disebutkan para kritikus itu tidak dibangun di atas dalil.

Syaikh Hasan al-Banna telah meletakkan dasar-dasar aqidah yang jelas dalam banyak tulisannya. Dalam hal ini beliau selalu merujuk pada al-Qur'an dan Sunnah. Pada keduanyalah terdapat kehidupan dan kesembuhan hati.

Syaikh Hasan al-Banna mengetahui dengan baik perbedaan yang terjadi antara mazhab salaf dan khalaf. Akan tetapi melalui kepekaan seorang da'i ditengah konspirasi musuh-musuh lain, beliau ingin mendekatkan berbagai sudut pandang. Ia berupaya menjelaskan bahwa perbedaan antara salaf dan khalaf bukanlah perbedaan besar. Semestinya pendapat seperti ini tidak harus memunculkan fitnah terhadapnya.

Adapun bahwa beliau mengajak untuk saling menolong di antara kelompok Islam dan madzhab Islam, maka upaya untuk mewujudkan itu tidak membahayakan selama seorang muslim mengetahui manhaj yang benar, dan tetap berpegang teguh kepadanya.

Cukuplah bahwa Syaikh Hasan al-Banna memberi rambu-rambu pemahamannya sebagaimana terdapat pada ushulu al-'isyriin.

Syaikh Hasan al-Banna juga tidak lupa menyebutkan masalah tashawuf yang dimaksud dengan pembinaan jiwa dan pembinaan perilaku, jauh dari khurafat, bid’ah, suatu pola yang telah banyak mendapat pujian dari banyak orang.

Rincian Tuduhan dan Jawaban

Tuduhan bahwa Ikhwanul Muslimin Tidak Memiliki Persepsi Aqidah yang Jelas

Ketika membahas manhaj aqidah Ikhwan, kami telah menjelaskan bahwa aqidah Ikhwanul Muslimin adalah sebagaimana aqidah salafiyyah. Karenanya, Hasan al-Banna begitu besar perhatiannya terhadap masalah aqidah.

Beliau mengatakan, "Yang saya maksud dengan ukhuwwah adalah agar hati dan ruh kaum muslimin itu bersatu dengan ikatan aqidah, sebagai ikatan yang paling kokoh dan kuat."

Masalah aqidah dibahas secara detail dan jelas:

Dalam al-Ushul 'isyriin, masalah tersebut secara gamblang dan rinci dijelaskan dalam poin berikut:
1. Prinsip pertama dan kedua, tentang aqidah dan hubungannya dengan amal perbuatan. Inilah aqidah yang-benar dan ibadah yang lurus. Serta al Qur'an dan Hadits sebagai rujukannya.
2. Prinsip ketiga: Pengaruh Iman terhadap diri muslim.
3. Prinsip keempat:, Tentang jimat dan berbagai bentuk kemusy- rikan dan bid'ah yang harus diperangi.
4. Bagian terakhir dari prinsip kesembilan: Tentang penghormatan terhadap shahabat dan persoalan yang terkait dengan mereka, ridhwanullahi ‘alaihim.
5. Prinsip kesepuluh: Keyakinan tentang Tauhid uluhiyah dan Rububiyah
6. Prinsip ke sebelas: Bid'ah dalam agama Allah dan cara memeranginya.
7. Prinsip ke tiga belas: Orang-orang shalih dan karomah.
8. Prinsip keempat belas: Masalah kuburan dan bid'ah yang terkait dengannya.
9. Prinsip ke lima belas: Masalah do'a dan tawassul.
10. Prinsip ke tujuh belas: Aqidah dan keterikatannya dengan amal.
11. Prinsip ke delapan belas: Aqli dan naqli dalam aqidah.
12. Prinsip ke sembilan belas: Hubungan dalil Aqli dan naqli dalam aqidah, dan apabila terjadi
kontradiksi maka dalil naqli lebih diulamakan.
13. Prinsip ke dua puluh: Tidak melakukan takfir (mengkafirkan) terhadap orang yang berbuat dosa kecuali dia berikrar dan selalu mengulangi perbuatan itu, sesudah dijelaskan tentang penyimpangannya.

Selain prinsip-prinsip tersebut perhatian tentang aqidah tampak juga pada keterangan beliau pada bab kedua yang membahas tentang da'wah, dijelaskan dalam prinsip pertamanya tentang syumuliyatul fahm, pemahaman Islam yang integral.

Dalam bab ketiga tentang manhaj, prinsip kedua, dijelaskan bahwa landasan pemahaman seorang muslim dan rujukannya dalam manhaj adalah al-Qur'an dan sunnah. Pada prinsip keenam dalam bab tersebut disebutkan bahwa kesucian itu hanyalah pada al-Qur'an dan sunnah Nabi saw.,juga disebutkan sikap yang harus dilakukan dalam menghadapi masalah khilafiyah.

Pada prinsip kesembilan dijelaskan agar seorang muslim tidak tenggelam dalam masalah-masalah perdebatan dan meninggalkan semua unsur yang memecah belah. Kemudian pada prinsip keenam belas menerangkan masalah 'urf dan pengaruhnya.

Di bab keempat, tentang fiqih, dijelaskan dalam prinsip ke tujuh tentang ijtihad dan taqlid. Pada prinsip ke delapan, tentang perselisihan dalam furu' (cabang) dan pertentangan di dalamnya.

Pada prinsip keduabelas, dijelaskan seputar ibadah dan penambahan ibadah serta pemahaman ulama terhadap masalah tersebut.
Sumber : http://eramuslim.com/manhaj-dakwah/prinsip-prinsip-dakwah-ikhwan.htm

Nilai Dakwah dan Pertanyaan tentang Ikhwanul Muslimin

Siapapun yang mendalami ilmu agama Allah mengetahui bahwa posisi dakwah ilallah berada pada posisi yang paling tinggi dan sarana mendekatkan diri pada Allah yang paling baik. Kenapa? Dakwah adalah misi para Anbiya, jalan para rasul dan auliya.

(Dari Buku Ikhwanul Muslimin; Deskripsi, Jawaban Tuduhan, dan Harapan Oleh Syaikh Jasim Muhalhil)

Siapapun yang mendalami ilmu agama Allah mengetahui bahwa posisi dakwah ilallah berada pada posisi yang paling tinggi dan sarana mendekatkan diri pada Allah yang paling baik. Kenapa? Dakwah adalah misi para Anbiya, jalan para rasul dan auliya.

Dengan jalan itulah, rahmat Allah menyebar dan kesesatan lenyap. Karena itu, banyak sekali ayat-ayat, serta hadits-hadits shahih yang jelas menerangkan masalah ini.

Allah swt. berfirman:

“Dan hendaklah di antara kalian ada sekelompok yang menyeru kepada kebaikan dan memerintahkan yang ma’ruf serta melarang yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104)

“Kalian adalah ummat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, memerintahkan kepada yang ma'ruf dan melarang yang mungkar, serta beriman kepada Allah..." (QS. Ali Imran: 110)

Bersabda Rasulullah saw., "Demi Dzat Yang Jiwaku Ada dalam Tangan-Nya. Pasti kalian akan memerintahkan yang ma'ruf dan melarang yang mungkar. Atau (bila kalian tidak melakukan hal tersebut), niscaya Allah akan menimpakan hukuman atas kalian, setelah itu kalian memohon kepada-Nya, dan tidak dikabulkan." (HR. Turmudzi, dan mengatakan hadits hasan).

Keadaan mereka sebagaimana ungkapan Imam Ahmad rahimahullah yang dinukil dalam kitab I'lam al-Muwaqi'in: “Mereka menyeru yang tersesat pada petunjuk, menghidupkan orang-orang yang mati dengan Kitabullah, menjelaskan orang-orang yang buta dengan cahaya Allah. Berapa banyak korban-korban iblis yang mereka hidupkan kembali? Berapa banyak mereka yang tersesat terlunta-lunta mendapat petunjuk kembali."

Karena itu, mereka, para da'i, memang layak memperoleh do'a dari semut yang ada di sarangnya, hingga ikan yang ada di lautan. Mereka di bumi ini, ibarat bintang di langit. Melalui mereka yang ragu-ragu dalam kegelapan dapat tertuntun kembali.

Merekalah yang menyampaikan ajaran Allah dan melanjutkan misi para Anbiya setelah tidak ada lagi rasul sesudah Muhammad saw. dan wahyu telah terputus dari langit. “Demikianlah kami jadikan kalian sebagai ummat pertengahan.. agar kalian menjadi saksi atas manusia, dan Rasul menjadi saksi atas kalian." (QS Al-Baqarah: 143)

Bertolak dari sini, risalah yang ditulis khusus untuk para da'i ini, bertujuan agar menjadi satu bentuk pemuliaan bagi mereka, penjelas dan penerang bagi siapa saja yang ingin berjalan di jalan para Anbiya.

Saya memohon kepada Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Kuasa, agar para da'i yang mencari kebenaran, dapat mengambil manfaat atas usaha ini. Saya mohon ampun kepada Allah dari kekeliruan. Semoga Allah memeliharaku dari keburukan.

Risalah ini kususun mencakup beberapa bab. Bab "Kenapa Ikhwanul Muslimin, terbagi tiga bagian: Hakikat Dakwah Ikhwanul Muslimin, Syubuhat dan Jawabannya, serta Untaian Harapan dalam Amal Islami.

Saya menyusun risalah ini sebagai seruan secara menyeluruh agar menjadi perhatian para pemuda, sekaligus menyingkap berbagai pemikiran serta isu-isu yang ada.

Setelah itu, saya sebutkan kaidah-kaidah umum dalam menolak syubuhat yang dilontarkan kepada Ikhwanul Muslimin. Di sini, saya berikan beberapa contoh syubuhat berikut jawabannya.

Berikutnya, saya paparkan pula beberapa harapan yang semoga dapat semakin mengokohkan eksistensi harakah Ikhwan. Juga agar harakah dapat mengevaluasi kesesuaian langkahnya terhadap manhaj.

Ini dalam kondisi harapan-harapan tersebut memang belum termasuk dalam program harakah. Bila harapan tersebut sesuai dengan manhaj, hendaklah segera diambil. Dan bila tidak, harus segera ditutup.

Mengapa Ikhwan?

Yang menjadi pertanyaan, Mengapa dakwah Ikhwanul Muslimin selalu menjadi sasaran konspirasi musuh Islam di segenap penjuru Timur dan Barat? Mengapa dakwah Ikhwanul Muslimin hingga kini cahayanya tak kunjung padam? Mengapa dakwah Ikhwanul Muslimin justeru menarik minat banyak pemuda, betapapun mereka mengetahui konsekwensi jalannya yang begitu berat? Mengapa dakwah Ikhwanul Muslimin dibenci oleh orang-orang yang kerasukan ambisi pribadi?

Sebuah konperensi duta besar dari Inggris, Perancis dan Amerika pernah digelar di Faid, November 1948. Para konsulat meminta dubes Inggris menuntut Naqrasyi, perdana menteri Mesir saat itu, agar mengeluarkan keputusan larangan terhadap Jama'ah Ikhwanul Muslimin.

J. Obrian, Sekretaris Politik Komando Angkatan Darat Inggris di Timur Tengah, mengirim surat pada Organisasi Intelejennya di wilayah Mesir dan Laut Tengah.

Ia menyebutkan isi pembicaraan serta hasil-hasil penting konperensi di Faid. Yang terpenting, mereka akan melakukan langkah koordinasi melalui kedutaan besar Inggris di Kairo guna menghantam Jama'ah Ikhwanul Muslimin.

Itu gambaran tentang pertanyaan pertama. Tentang pertanyaan kedua, masih banyak orang yang belum mengetahui hakikat dakwah ikhwan.

Di antara mereka masih ada yang diliputi rasa bimbang. Mereka sebenarnya menyimpan simpati terhadap Ikhwan, namun belum percaya terhadap kemampuannya. Mereka juga ingin melakukan sesuatu, tetapi putus asa karena khawatir bila dakwah ini hancur. Pada akhimya, mereka memilih diam, tanpa melakukan apapun.

Dilatarbelakangi fenomena tersebut, juga banyak para pemuda yang tengah menanti orang yang dapat menjelaskan jalan dakwah pada mereka, yang dapat menjadi saluran aspirasi dan amal mereka secara jelas dan terang.

Untuk mereka semua, dan siapa saja yang ingin melangkahkan kaki di atas jalan dakwah, kami persembahkan risalah ini untuk menghilangkan waham, serta berbagai isu yang disebarkan dari mulut ke mulut. (diterjemahkan oleh Hawari Aulia)
Sumber : http://eramuslim.com/manhaj-dakwah/nilai-dakwah-dan-pertanyaan-tentang-ikhwanul-muslimin.htm

Arsip Manhaj Dakwah

Arsip Manhaj Dakwah
Rabu, 28/01/2009 16:36 WIB
Tuduhan dan Jawaban terhadap Tokoh Ikhwan

Selasa, 20/01/2009 16:23 WIB
Prinsip-Prinsip Dakwah Ikhwan

Senin, 12/01/2009 10:00 WIB
Sosok Rijalud Dakwah

Rabu, 31/12/2008 16:11 WIB
Ikhwan, Jihad, Politik, dan Partai

Selasa, 23/12/2008 14:00 WIB
Ikhwan dan Masalah Kaum Wanita

Selasa, 16/12/2008 16:08 WIB
Sikap Ikhwan terhadap Umat

Kamis, 11/12/2008 17:04 WIB
Manhaj Aqidah dalam Dakwah

Jumat, 05/12/2008 10:14 WIB
Hujatan terhadap Dakwah Al-Banna

Senin, 01/12/2008 12:35 WIB
Prinsip Ijtihad dan Taqlid Menurut Ikhwan

Selasa, 25/11/2008 13:46 WIB
Pendapat Imam Mazhab tentang Taqlid

Selasa, 18/11/2008 14:53 WIB
Manhaj Aqidah dan Fiqih Ikhwan

Jumat, 14/11/2008 16:14 WIB
Sarana Dakwah Ikhwan

Rabu, 05/11/2008 14:41 WIB
Sasaran Dakwah Ikhwan

Rabu, 29/10/2008 16:53 WIB
Bertahap dalam Langkah

Selasa, 21/10/2008 11:27 WIB
Karakter Ketiga: Saling Melengkapi dalam Bangunannya

Kamis, 16/10/2008 14:12 WIB
Sasaran dan Karakteristik Dakwah Ikhwan

Senin, 13/10/2008 12:38 WIB
Nilai Dakwah dan Pertanyaan tentang Ikhwanul Muslimin

Sumber : http://eramuslim.com/manhaj-dakwah/arc/1

GUA



Dua orang pemuda tampak berdiskusi di sebuah mulut gua. Sesekali, mereka memandang ke arah dalam gua yang begitu gelap. Gelap sekali! Hingga, tak satu pun benda yang tampak dari luar. Hanya irama suara serangga yang saling bersahutan.

“Guru menyuruh kita masuk ke sana. Menurutmu, gimana? Siap?” ucap seorang pemuda yang membawa tas besar. Tampaknya, ia begitu siap dengan berbagai perbekalan.

“Menurut petunjuk guru, gua ini bukan sekadar gelap. Tapi, panjang dan banyak stalagnit, kelelawar, dan serangga,” sahut pemuda yang hanya membawa tas kecil. Orang ini seperti punya kesiapan lain di luar perbekalan alat. “Baiklah, mari kita masuk!” ajaknya sesaat kemudian.

Tidak menyangka dengan ajakan spontan itu, pemuda bertas besar pun gagap menyiapkan senter. Ia masuk gua beberapa langkah di belakang pemuda bertas kecil. “Aneh!” ucapnya kemudian. Ia heran dengan rekannya yang masuk tanpa penerangan apa pun.

Dari mulai beriringan, perjalanan keduanya mulai berjarak. Pemuda bertas besar berjalan sangat lambat. Ia begitu asyik menyaksikan keindahan isi gua melalui senternya: kumpulan stalagnit yang terlihat berkilau karena tetesan air jernih, panorama gua yang membentuk aneka ragam bentukan unik, dan berbagai warna-warni serangga yang berterbangan karena gangguan cahaya. “Aih, indahnya!” gumamnya tak tertahan.

Keasyikan itu menghilangkannya dari sebuah kesadaran. Bahwa ia harus melewati gua itu dengan selamat dan tepat waktu. Bahkan ia tidak lagi tahu sudah di mana rekan seperjalanannya. Ia terus berpindah dari satu panorama ke panorama lain, dari satu keindahan ke keindahan lain.

Di ujung gua, sang guru menanyakan rahasia pemuda bertas kecil yang bisa jauh lebih dulu tiba. “Guru…,” ucap sang pemuda begitu tenang. “…dalam gelap, aku tidak lagi mau mengandalkan mata zhahir. Mata batinkulah yang kuandalkan. Dari situ, aku bisa merasakan bimbingan hembusan angin ujung gua, kelembaban cabang jalan gua yang tak berujung, batu besar, dan desis ular yang tak mau diganggu,” jelas sang pemuda begitu meyakinkan.
**

Ada banyak “gua” dalam hidup ini. Gua ketika seseorang kehilangan pekerjaan. Gua di saat gadis atau lajang terus-menerus tertinggal peluang berjodoh. Gua di saat orang alim menjadi sulit dipercaya. Gua ketika bencana begitu buta. Dan, berbagai “gua” lain yang kadang dalam gelapnya menyimpan seribu satu keindahan yang membuai.

Sebagian kita, suka atau tidak, harus menempuh rute jalannya yang gelap, lembab, dan penuh jebakan. Sayangnya, tidak semua kita mampu menyiapkan bekal secara pas. Kita kadang terjebak dengan kelengkapan alat. Dan, melupakan bekalan lain yang jauh lebih jitu dan berdaya guna: kejernihan mata hati.

Mata hatilah yang mampu menembus pandangan di saat “gelap”. Mata hatilah yang bisa membedakan antara angin tuntunan dengan yang tipuan. Kejernihannya pula yang bisa memantulkan ‘cahaya’ yang sejati. (mnuh)
Sumber : http://eramuslim.com/hikmah/tafakur/gua.htm

Prof. Anton Timur Jaelani Wafat

Senin, 09/02/2009 19:11 WIB

Jakarta--Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Prof. Anton Timur Jaelani MA, mantan Dirjen Binbaga Islam Departemen Agama meninggal dunia pada usia 86 tahun, Sabtu (7/2), pukul 11 WIB, di kediamannya Jl. Kramat VII Nomor 9, Jakarta Pusat.

Almarhum yang lahir di Purworejo, Jawa Tengah, 27 Desember 1922 juga merupakan tokoh pejuang dan pendiri organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII) pada 4 Mei 1947. Jenazahnya semula akan dimakamkan di pemakaman keluarga di Singaparna, Tasikmalaya.Namun atas permintaan Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni dan Wakil Ketua MPR AM Fatwa yang hadir melayat.di kediaman kepada istri almarhum, Ny. Tejaningsih, akhirnya disepakati jenazah akan dimakamkan di komplek UIN Syarif Hidayatullah Ciputat pada hari Ahad, pukul 12.00.

Tampak hadir takziyah Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil, Menteri Kehutanan MS Ka`ban, Kabalitbang Depag Atho Mudzhar dan Kapus Pinmas Masyhuri AM, serta sejumlah kerabat dan kader PII dan HMI.

Almarhum pada tahun 50-an menjadi guru di sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) dan Sekolah Persiapan IAIN (SPIAIN). Tahun 1956 meneruskan studi di Kanada, seusai pensiun dari Depag aktif di bidang pendidikan antara lain di Universitas Ibnu Chaldun Jakarta, Universitas Juanda Bogor dan Ketua STAI Thawalib Jakarta (1985-1997).Beliau bukan hanya aset Depag tapi juga merupakan aset nasional.
Prof. Anton Timur Jaelani Dimakamkan di Komplek UIN Jakarta

Jakarta-- Irjen M. Suparta mewakili Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni melepas kepergian jenazah almarhum Prof. Anton Timur Jaelani, MA yang wafat dalam usia 86 tahun dari rumah duka Jl. Kramat VII No. 9 Jakarta Pusat, Ahad siang.

Almarhum adalah Irjen Departemen Agama pertama (1972-78) dan Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam pertama (1978-83), tutup usia pada hari Sabtu (7/2) pukul 11.00 WIB dikediamannya, dan dimakamkan di komplek pemakaman kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta pada Ahad, pukul 13.30 WIB.

Tampak hadir pada pelepasan jenazah Wakil Ketua MPR AM Fatwa, Kabalitbang Atho Mudzhar, Kapus Pinmas Masyhuri AM. Menag Maftuh Basyuni menyempatkan takziyah di kediaman almarhum pada Sabtu malam.

Menurut Irjen Suparta, almarhum bukan hanya aset Departemen Agama, melainkan juga sebagai aset bangsa. Karena profesor Anton telah banyak berperan dalam bidang pendidikan, termasuk mendirikan organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII) pada 4 Mei 1947.

Anton Timur Jaelani lahir di Kauman Purworejo, Jawa Tengah, 27 Desember 1922 dari pasangan R. Moh. Jaelani dan Siti Fatimah meninggalkan istri tercinta Ny. Tejaningsih. Pada tahun 50-an menjadi guru di sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) dan Sekolah Persiapan IAIN (SPIAIN). Tahun 1956 meneruskan studi di Mc Gill University Kanada. Sebagai pengajar pascasarjana di IAIN (kini UIN) Jakarta, almarhum juga aktif di berbagai kampus, yakni Universitas Ibnu Chaldun Jakarta, Universitas Juanda Bogor dan Ketua STAI Thawalib Jakarta.

Selain itu pernah menjadi delegasi Indonesia pada World Conference on Religion and Peace di New Delhi (1981), Seoul (1986), Kathmandu (1990) dan Roma (1994). Mendapat julukan sebagai Architect of Indonesian Dialogue.

Demikian Siaran Pers Humas Dep.Agama

Jakarta, 8 Februari 2009
Sumber : http://eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/prof-anton-timur-jaelani-wafat.htm

Non-Muslim Sarajevo Kritik Pelajaran Agama Islam



Keputusan Dewan Kota Sarajevo, ibukot Bosnia untuk memberikan mata pelajaran agama Islam di seluruh sekolah taman kanak-kanak di kota itu dikritik oleh sebagian warga masyarakat. Mereka khawatir pelajaran agama akan mempertajam konflik etnis yang sudah terjadi di negara yang akan berkembang ke konflik agama.

Keputusan Dewan Kota Sarajevo mendapat dukungan dari kementerian pendidikan karena sesuai dengan penerapan undang-undang kebebasan beragama yang diberlakukan sejak tahun 2004. Berdasarkan keputusan tersebut, siswa-siswi taman kanak-kanak yang Muslim secara khusus akan mendapatkan pelajaran dasar-dasar Islam dan sejarah Rasulullah Muhammad Saw di kelas berbeda.

Namun sejak keputusan ini diterapkan bulan Oktober kemarin, terjadi pro dan kontra di kalangan etnis Serbia, Kroasia dan kalangan warga Muslim di Sarajevo. Seorang psikolog Jasna Bajraktarevic mengatakan, pelajaran agama. apalagi pada usia taman kanak-kanak selayaknya diberikan di rumah saja dan tidak di sekolah. Bajraktarevic menilai kebijakan itu salah karena akan menjadi bumerang bagi warga masyarakat di Sarajavo yang multi etnis.

"Setiap tindakan yang salah bisa menghantam balik kita seperti bumerang. Pengenalan mata pelajaran agama di taman kanak-kanak ibarat kuda Trojan, memelihara api dalam sekam yang akan memprovokasi terjadi konflik antar umat beragama," kata Bajraktarevic.

Namun pejabat kementerian pendidikan Srecko Zmukic mengatakan,"Jika pengajaran agama tidak dilarang, itu artinya kita sudah melanggar undang-undang." Pasalnya, semua kelompok agama sudah diminta untuk membuat kurikulum pelajaran agama dan saat ini, pelajaran agama Islam baru diberikan di sekolah-sekolah di Sarajevo. Itupun waktunya cuma 30 menit dan didanai oleh Dewan Kota Sarajevo, kota yang mayoritas penduduknya Muslim.

Seorang ibu non-Muslim yang mengetuai organisasi wali murid juga menolak mata pelajaran agama Islam di sekolah dengan alasan yang sama. "Kebijakan itu hanya akan memperdalam perpecahan di kalangan masyarakat. Saya kira itu kebijakan yang salah," kata si ibu bernama Helena Mandic.

Mereka yang menentang mata pelajaran agama Islam di taman kanak-kanak juga berargumen bahwa anak-anak belum mampu memahami pelajaran agama dengan baik, apalagi jika kelas untuk pelajaran agama dipisah.

"Saya khawatir, 20 tahun yang akan datang, perpecahan etnis di negara kita makin dalam dibandingkan hari ini dan kita akan menghadapi konflik yang baru," kata Bajraktarevic.

Dari 3,8 juta jumlah penduduk Bosnia, 40 persennya adalah Muslim, 31 persen Kristen Ortodoks dari etnis Serbia dan 10 persennya penganuat agama Katolik Roma dari etnis Kroasia. (ln/aby)
Sumber : http://eramuslim.com/berita/dunia/non-muslim-sarajevo-kritik-mata-pelajaran-agama-islam-di-tk.htm